Sutrah dalam Shalat

عَنْ سَهْلِ بْنِ أَبِى حَثْمَةَ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا ، لاَ يَقْطَعُ الشَّيْطَانُ عَلِيهِ صَلاَتَهُ

Dari Sahl bin abi Hatsmah, ia menyampaikan kepada nabi saw, bahwa beliau bersabda “Apabila salah seorang di antara kalianmelaksanakan shalat menghadap ke sutrah (pembatas), maka hendaklah dia mendekati pembatas tersebut, agar syetan tidak memutuskan shalatnya

(Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab ash-Shalat, Bab ad-Dunuw min as-Sutrah (mendekat kepada sutrah). Imam an-Nasa’i menyebutkan hadis ini di dalam kitab al-Qiblah, Bab al-Amru bi ad-Dunuwi min as-Sutrah. Juga diriwayatkan oleh imam Ahmad di dalam kitab Musnad beliau pada bagian hadis dari para shahabat dari Madinah.)

Pendahuluan

Ketika kita shalat di masjid, kadang-kadang kita melihat orang shalat menghadap tembok. Lalu pada sebagian orang bertanya-tanya, shalat kok menghadap tembok, seperti menyembah tembok saja. Dari sini lalu banyak orang yang ketika shalat enggan mendekatkan sesuatu di hadapannya. Dan kadang-kadang lagi ada yang shalat membelakangi tembok belakang masjid, dan didepannya tidak ada batasannya.

Dari dua fenomena orang shalat yang kita lihat di sekitar kita, marilah kita menimbang mana yang lebih benar di antara keduanya. Agar timbangan kita adalah timbangan yang benar sesuai kaidah syara’, maka dalam menimbang kedua hal tersebut harus didasarkan kepada tuntunan sunnah rasulullah shalallallahu ‘alaihi wasallam. Hadis yang kita bahas pada kesempatan kali ini akan kita jadikan acuan dalam timbangan tersebut, insya’Allah.

Pengertian

Secara bahasa kata sutrah berarti sesuatu yang dijadikan sebagai pembatas, apa pun bentuknya.

Adapun secara istilah, sutrah bagi orang yang shalat adalah apa yang terletak atau diletakkan di hadapannya berupa dinding, tiang, tongkat atau yang lainnya ketika hendak mendirikan shalat, guna mencegah orang yang akan lewat di depannya saat ia sedang shalat.

Definisi ini menunjukkan bahwa sutrah bagi orang yang shalat bisa berupa benda permanent yang ada di depan orang yang shalat, seperti dinding dan tembok. Bisa juga benda yang diletakkan tidak permanen, seperti tongkat yang ditancapkan, atau kursi yang diletakkan di depan orang shalat.

Hukum Sutrah

Para ulama’ berbeda pendapat tentang hukum sutrah dalam shalat ini. Ada di antara mereka yang menyatakan sebagfai sebuah kewajiban, dan ada juga yang menyatakan hukumnya sunnah. Yang berpendapat hukumnya sunnah adalah mayoritas ulama’, berdasarkan beberapa hadis berikut.

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا وَلاَ يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Apabila salah seorang di antara kalian melakukan shalat, maka shalatlah dengan sutrah, dan mendekatlah kepada sutrah itu. Dan jangan biarkan seorang pun lewat di depannya (HR Ibnu Majah)

Dalam teks yang lain diiungkapkan dengan

لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ، وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ، فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ

“Janganlah engkau shalat melainkan ke arah sutrah (di hadapanmu ada sutrah) dan jangan engkau biarkan seseorang pun lewat di depanmu. Bila orang itu menolak, perangilah karena bersamanya ada qarin (setan).” (HR. Ibnu Khuzaimah)

لِيَسْتَتِرْ أَحَدُكُمْ فِي صَلاتِهِ وَلَوْ بِسَهْمٍ

Hendaklah kalian memasang sutrah di dalam shalat, meskipun hanya dengan sebuah anak panah (HR ath-Thabrani, al-Hakim, dan Ibnu Abi Syaibah)

Sutrah bagi Makmum

Sunnahnya sutrah adalah bagi orang yang shalat seorang diri dan imam. Adapun makmum tidak ada sunnah untuk meletakkan sutrah, sebab sutrah dalam shalat menjadi tanggung jawab imam. Dalil yang menyelisihi hal ini adalah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلَامَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ بَعْضِ الصَّفِّ فَنَزَلْتُ وَأَرْسَلْتُ الْأَتَانَ تَرْتَعُ وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ

Dari Abdullah bin Abbas ra ia berkata :“Saya datang dengan mengendarai keledai dan saat itu saya sudah ihtilam (baligh) dan Rasulullah saw sedang melaksanakan shalat bersama orang-orang di Mina. Maka saya melewati bagian depan shaf, kemudian saya turun, kemudian saya membiarkan keledai makan rumput dan saya masuk ke dalam shaf dan tidak ada seorang pun yang mengingkari perbuatanku tersebut” (HR. Al-Bukhari)

Imam al-Bukhari menempatkan hadis tersebut di bawah judul, Bab Sutratul Imam sutratu man khalfahu (sutrah imam menjadi sutrah bagi yang ada di belakangnya).

Lewat di antara Orang Shalat dengan Sutrah

Di dalam hadis ini dijelaskan bahwa hikmah sutra adalah agar shalat tidak terputuskan oleh syetan. Sedangkan syetan yang dimaksudkan adalah orang yang lewat di antara orang yang shalat dengan sutrah, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Dengan demikian, melewati antara orang shalat dengan sutrah adalah haram, dan pelakunya berdosa.

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Kalau seandainya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui (keburukan) apa yang dia dapatkan maka berdiri menanti empat puluh lebih baik baginya daripada lewat di depannya (HR al-Bukhari dan Muslim)

Makna hadis ini adalah lewat didepan orang shalat, di antara orang yang shalat dengan sutrah. Jika orang yang shalat tidak mengunakan sutrah, maka ia lewat di tempat yang dibutuhkan untuk shalat (harimush-shalat). Sebagian ulama’ berpendapat, sejauh tiga hasta. Tetapi jika seseorang lewat di luar sutrah, maka ulama’ sepakat tidak ada dosa baginya.

Sumber: http://bud1prasety0.wordpress.com/2010/10/19/sutrah-dalam-shalat/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s